Makanan Bisa Sebagai Sumber Racun

Tidak semua makanan dan minuman yang kita konsumsi diserap tubuh, melainkan hanya sebagian. Sebagian yang lain tentu harus dibuang atau dikeluarkan dari tubuh baik dalam bentuk keringat, urin, maupun feses atau kotoran. Nah, semua sisa makanan atau zat yang tidak diperlukan tubuh akan diperlakukan sebagai racun (toksin).

Dalam kondisi normal, toksin ini akan dikeluarkan secara teratur setiap hari melalui sistem pembuangan tubuh, Meskipun demikian, bukan jaminan bahwa proses pembuangan toksin sudah optimal sehingga tentu ada saja yang tersisa. Toksin yang tidak terbuang ini akhirnya ikut beredar di dalam darah atau sistem metabolisme. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, lama-lama racun ini akan terns menumpuk yang tentunya akan mengganggu kesehatan.

Kelebihan material yang tidak dibutuhkan lersebut tentunya akan mengotori pembuluh darah dan menyebabkan gangguan kesehatan yang kronis. Selain itu, kerja organ seperti ginjal, pankreas, jantung, dan hati juga akan semakin berat. Alhasil, kandungan kolesterol, purin, gula, maupun trigliserida dalam darah akan tinggi dan bisa menyebabkan gangguan seperti asam urat, jantung koroner, serta diabetes. Jika hal ini terus dibiarkan, lama-lama bisa menyebabkan kegagalan fungsi organ.

Makanan Berkolesterol Tinggi

Makanan berkolesterol tinggi, mengadung lemak jenuh, serta makanan instan dan minuman ringan yang kita konsumsi setiap hari bisa jadi mengadung zat berbahaya. Iika zat berbahaya ini tidak dikeluarkan dari tubuh, racun dalam tubuh kian menumpuk dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, tidak ada salahnya mulai seaat ini kita perhatikan konsumsi makanan kita setiap hari sehingga kita bisa meminimalkan masuknya racun serta zat berbahaya bagi tubuh.

Salah satu yang perlu kita waspadai adalah kandungan kolesterol yang ada di dalam makanan. Kolesterol adalah sejenis lemak yang terdapat dalam aliran darah. Selain kolesterol, ada juga lipid atau lemak darah yang disebut trigliserida. Tidak semua kolesterol harus dihindari karena kolesterol dibedakan menjadi dua, yaitu high density lipoprotein (kolesterol baik) dan low density lipoprotein (kolesterol jahat).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *